Tengok pula anak kecil. Sebenarnya sih konsep takut tidak pernah
terlintas di kepalanya. Namun sayangnya, acapkali orangtuanyalah yang
memperkenalkan dan menjejalkan konsep takut kepadanya, Kalau kamu nakal,
ntar digigit anjing lho! atau, Kalau kamu nggak mau makan, bakal
didatangin kuntilanak lho! Akhirnya, si anak jadi merinding beneran.
Konsep takut pun menyelinap dan bersemayam di otaknya. Kesimpulannya,
hati-hati dengan pikiran Anda. Pilah dan pilih konsep yang patut
bercokol di sana.
Tayangan di televisi, majalah dan suratkabar acap kali mencekoki
otak Anda dengan hal-hal yang negatif. Dan repotnya lagi, sering kali
Anda tidak menyadarinya. Pst, kalau sudah begitu, siapa yang rugi? Yah,
Anda sendiri! Si pembuat acara mana mungkin rugi! Rating acara meroket.
Iklan-iklan pun berdesakan. Saldo mereka pun melambung. Kembali pada
orang gila. Hei, Penulis! Nggak salah nih? Kita yang waras gini malah
ngomongin orang gila!”
Yah, mana mungkin orang gila yang ngomongin kita? Hahaha, saya
bercanda. Bagi saya, orang-orang yang luar biasa adalah orang-orang yang
sedikit gila. Tentu saja, bukan dalam pengertian sakit jiwa. Tetapi
maksudnya, tidak jarang mereka berpikir, berkhayal dan bermimpi secara
tidak rasional. Pokoknya, rada ngawur, rada ngelantur. Sehingga
lingkungan di sekitarnya tanpa tedeng aling-aling menuding, Ah, dasar
gila! Mana mungkin itu terjadi! Toh, pada akhirnya itu terjadi juga.
Tidak perlu contoh. Anda pasti sudah sering menyaksikannya dalam
kehidupan sehari-hari. Menurut saya, untuk menjadi orang yang luar
biasa, lakukanlah apa yang tidak dilakukan oleh orang biasa. Orang biasa
menghabiskan waktunya 2-3 jam sehari untuk
menonton sinetron. Orang biasa menghabiskan Sabtu-Minggu-nya untuk
bermalas-malasan. Orang biasa menghabiskan waktu, uang dan kartu
kreditnya di pusat-pusat perbelanjaan.
Ketahuilah, orang luar biasa tidak pernah melakukan semua itu. Dan
ketika Anda coba meniru orang luar biasa, saya jamin Anda akan dicap
'gila' oleh orang biasa. Tidak percaya? Lakoni saja! Bulan lalu saya
bertemu dengan Helmi Yahya, biangnya Reality Show di tanah air. Ketika
ia berkisah tentang betapa workaholic-nya dia semenjak kecil, saya
langsung bergumam dalam hati, Dia telah membayar harganya dan dia pantas
memperoleh ganjarannya. Lihat pula Aa Gym, pendakwah sekaligus
pengusaha. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ia memanfaatkan waktunya
menit demi menit secara optimal. Dan kita semua maklum apa yang telah ia
capai.
Akhirnya, maafkan saya apabila tulisan saya kali ini sedikit
semrawut. Tulisan ini memang dibikin se-spontan mungkin, se-instan
mungkin. Lagi pula, tulisan ini memang hanya untuk orang keblinger kok.
Hei, jangan tersinggung. Tetapi yang penting, Anda pilih yang mana?
Menjadi orang biasa atau orang luar biasa? Setidak-tidaknya, sebelum
menjadi orang luar biasa, Anda sudah menjadi orang biasa di luar 'kan?
Hahaha, saya bergurau. Sekali lagi, jadilah orang yang luar biasa!
Meskipun untuk itu, Anda kudu merelakan diri untuk dilabel 'gila' oleh
orang-orang di sekitar Anda. Percayalah, sebenarnya gelar 'gila'
tersebut merupakan luapan kekaguman alias pujian dari mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar